
Gunung Semeru selalu ada dalam daftar impian saya. Bukan hanya karena dia gunung tertinggi di Pulau Jawa, tapi juga karena cerita-cerita dari para pendaki yang menggambarkan keindahannya dengan begitu dramatis. Ranu Kumbolo yang magis, tanjakan cinta yang penuh mitos, sampai puncaknya yang dikenal sebagai Mahameru—semua itu bikin saya nggak tahan buat coba mendaki sendiri.
Akhirnya, saya nekat. Tanpa pengalaman mendaki gunung tinggi sebelumnya, saya dan beberapa teman memutuskan buat menaklukkan Semeru. Dan, ya… perjalanan ini lebih dari sekadar pendakian. Ini adalah perjalanan penuh pelajaran, kesalahan, dan momen yang bikin saya bersyukur (dan sedikit trauma).
Kesalahan Pertama: Meremehkan Persiapan
Saya kira, asal punya sepatu gunung dan jaket tebal, saya siap buat naik Semeru. Ternyata, salah besar.
Dari awal, saya sudah merasa kelelahan luar biasa karena bawa tas carrier yang beratnya hampir setengah berat badan saya. Saya juga salah pilih sepatu—yang ternyata nggak cukup kuat buat menahan licinnya jalur pasir menuju puncak. Ditambah lagi, saya kurang latihan fisik sebelum berangkat.
Jadi, pelajaran pertama: kalau mau naik Semeru, latihan fisik itu wajib. Minimal biasakan jalan jauh dengan tas berat, dan pastikan perlengkapanmu benar-benar mendukung perjalanan. Jangan kayak saya yang harus sering berhenti tiap beberapa menit karena kehabisan napas.
Ranu Kumbolo: Keindahan yang Menjebak
Begitu sampai di Ranu Kumbolo, saya merasa semua perjuangan terbayar. Danau ini benar-benar seindah foto-foto yang saya lihat di internet. Airnya tenang, kabut tipis menggantung di pagi hari, dan suasana dinginnya bikin nyaman.
Tapi di sini juga saya hampir bikin kesalahan besar: meremehkan suhu dingin.
Tidur di tenda tanpa pakaian yang cukup hangat? Itu mimpi buruk. Malam itu saya menggigil luar biasa, padahal sudah pakai sleeping bag. Udara di sekitar Ranu Kumbolo bisa turun drastis, bahkan mendekati nol derajat. Untungnya, ada teman yang bawa termos air panas, jadi saya bisa sedikit menghangatkan diri.
Buat yang berencana ke sini, bawa jaket dan sleeping bag yang benar-benar tahan dingin. Jangan remehkan suhu di gunung, meskipun siangnya terasa panas.
Tanjakan Cinta dan Puncak Mahameru
Dari Ranu Kumbolo, perjalanan makin menantang. Ada tanjakan cinta, yang katanya kalau bisa naik tanpa menoleh ke belakang, cinta kita bakal langgeng. Saya sih nggak percaya mitos, tapi tetap penasaran buat nyoba. Hasilnya? Napas saya habis di tengah jalan, dan refleks saya otomatis menoleh ke belakang. Yah, mitosnya gagal, tapi itu bukan masalah utama.
Masalah sebenarnya datang saat pendakian ke puncak Mahameru. Jalur menuju puncak dipenuhi pasir dan batuan lepas. Setiap satu langkah naik, rasanya kaki turun setengah langkah lagi. Capeknya luar biasa. Ditambah angin dingin yang bikin tangan saya kaku, ini adalah bagian terberat dari seluruh perjalanan.
Tapi begitu sampai di puncak, semua rasa capek hilang seketika. Dari atas sana, saya bisa melihat lautan awan, gunung-gunung lain yang menjulang di kejauhan, dan tentu saja, kepulan asap dari kawah Jonggring Saloka yang terus mengepul. Rasanya luar biasa.